(Makanan khas Korea Selatan namanya Kulkukbab atau sup kerang)
Kalau menurut saya. Saya meresa beruntung lahir dan besar di Indonesia, karena tekanan social di Indonesia menurut saya tidak begitu tinggi seperti di Korea Selatan. Saya kebetulan pernah tinggal di Korea Selatan selama beberapa tahun, jadi sedikit banyak saya mengerti budayanya mereka.
Kalau menurut saya. Saya meresa beruntung lahir dan besar di Indonesia, karena tekanan social di Indonesia menurut saya tidak begitu tinggi seperti di Korea Selatan. Saya kebetulan pernah tinggal di Korea Selatan selama beberapa tahun, jadi sedikit banyak saya mengerti budayanya mereka.
-
Masalah Pendidikan.
Saya mengerti
bahwa negara Korea Selatan bisa maju dalam waktu yang relative singkat karena
mereka sangat fokus terhadap pendidikan. Pendidikan merupakan hal yang utama
buat mereka. Tetapi sisi buruknya, saking perfeksionisnya mereka terhadap
pendidikan, makanya disana banyak orang tua yang menyuruh anaknya untuk belajar
les-les setelah pulang sekolah di akademi-akademi sampai larut malam. Bahkan
tidak aneh kalau di jalan-jalan disana pas tengah malam masih ada anak sekolah
pakai seragam masih hilir mudik.
Hal ini
berbahaya untuk anak-anak yang secara mental tidak kuat dengan tekanan seperti
itu. Kasus terburuk, ada anak-anak yang bunuh diri hanya karena nilai sekolah.
Bahkan Korea Selatan merupakan negara dengan tingkat bunuh diri paling tinggi
di dunia.
-
Self acceptance.
Yang saya maksud
disini adalah penerimaan terhadap diri sendiri. Saya miris sebetulnya operasi plastik
disana sangat marak sekali. Pergi ke dokter plastik sudah seperti pergi ke toko
makanan, saking banyaknya. Bahkan kalau di subway, suka ada orang yang masih
pakai perban dimukanya habis operasi. Kalau misalkan operasi plastik untuk
memperbaiki yang benar-benar rusak karena kecelakaan, masih bisa dimengerti.
Yang anehnya, voucher operasi plastik bisa jadi hadiah ulang tahun anak yang ke
18. Hah!
-
Budaya over work
Pola fikir
kebanyakan orang Korea adalah bekerja dan belajar sekeras mungkin. Bekerja
sampai larut malam itu sudah hal biasa buat mereka. Meski sekarang kondisinya
jauh lebih baik dari beberapa tahun yang lalu, tetapi pola fikir itu susah
untuk dihilangkan.
Buat saya tidak ada negara yang
sempurna baik di negara sekalipun.

Comments
Post a Comment